Selasa, 01 Juli 2014

MERAWAT PUYUH AGAR SERING BERBUNYI

 CARA MERAWAT PUYUH (BUBUT) AGAR KUAT DAN SERING BERBUNYI

puyuh merupakan bintang yang memiliki naluri untuk kawin yang tinggi, sehingga untuk memikat betina melakukan  atau mengeluarakan suara suara yang nyaring sehingga sang betina tergoda dengan kerasnya suara dari pejantan. dalam hal ini beberapa bebotoh istilah pemilik puyuh jantan berinisiatif untuk melombakan suara puyuh, dimana dengan beberapa ketentuan dan syarat tertentu minsalnya batas waktu, jumlah suara. karena semakin maraknya arena lomba suara puyuh jantan diwilayah lombok membuat harga puyuh menjadi lumayan menggiurkan bagi kalangan peternak misalnya saya pribadi (penulis) dimana saya juga penikmat lomba setiap malam mengikuti lomba baik itu open maupun non. dalam hal ini pengalaman saya dalam merawat puyuh agar mampu bersuara tepat dan cepat beberapa trik dan perwatan yang saya lakukan yaitu.
1. setiap selesai lomba puyuh jantan diberikan induk supaya kawin
setiap pagi indukan dipisah dengan jantan dan di mandikan bukan dimandikan dengan air tapi diberi pasir, itu saya biarkan sampe sore hari tak lupa beri makan juga ditempat dia mandi, kemudian sore ha ri saya anggat ke sangkar dan ditaruh ditempat gelap selama sampe kearean dengan memakaikan tirai pada sangkarnya.... maka buktikan suaranya. saya sudah sering menang sampai- bosan menang...... abis gk seru gk da lawan....

ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA PUYUH (BUBUT)

ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA
analisis ini dilakukan sesuai dengan keadaan dan kondisi pasar di wilayah lombok tengah, nusa  tenggara barat, be rikut perincian dan alisisnya:
diasumsikan jumalah doc yang akan kita pelihara 1000 ekor.
  1. Analisis Usaha Budidaya
    1. Investasi
      1. kandang untuk pemanasan DOC ukuran  3 x 0,6 x 1,6 m (3 jalur + tempat makan dan minum) Rp. 1.500.000,-
      2. kandang ukuran 4 tingkat sebanyak 5 buah  @Rp. 550.000,- =2.750.000,-
    2. Biaya pemeliharaan (untuk umur 0-2 bulan)
      1. ay Old Quail (DOQ) x Rp 1000 (Harga DOQ) Rp. 1.000.000,-
      2. Obat (Vitamin + Vaksin) Rp. 145.000,-
      3. Pakan (selama 45 hari) Rp. 2.500.000,-
        Jumlah biaya produksi Rp. 3.645.000,-
        Keadaan puyuh:
        • Jumlah anak 1000 ekor (jantan dan betina)
        • Resiko mati 5%, sisa 950
        • Resiko kelamin 15% jantan, 85% betina (150 jantan, 850 betina)
        • Setelah 2 bulan harga puyuh bibit Rp 5000,- betina dan Rp 4000 jantan
        • Penjualan puyuh bibit umur 2 bulan Rp.4.250.000, betina Rp. 600.000,-
    3. Biaya pemeliharaan (0-4 bulan)
        • Mulai umur 1,5 bulan puyuh bertelur setiap hari rata-rata 85%, jumlah telur 1373 butir
        • Hasil telur diasumsikan 
          • minggu pertama 10% bertelur jika pakan sesuai: 85 butir/hari x 7=595 butir
          • minggu ke 2 30% = 255/hari x 7 = 1785 butir
          • minggu ke 3 dstnya 80%= 680x7= 4760 butir
        • biaya pakan minggu 1 bertelur dan seterusnya ( harga pakan saat ini dilombok tengah per juni 2014)
          • harga pakan komplit pabrikan compeed per sak Rp335.000 jadi Rp 6.700/kg
          • jagung giling per 3.600/kg
          • kosentrat ayam Rp 400.000/zak =8.000/kg
          • dedak Rp1000/kg
          • vitamin stimulan Rp 3000
        • biaya pakan perhari 22grm/ekor x 950 ekor= 20,9 kg /hari
        • perbandingan pakan 10:5:2:4 jadi harga perbandingannya 10kg complit x 6700=67.000,- : 5 kg jagung x 3600=18.000: 2kg kosentrat x 8.000= 16.000 : 4kg dedak x 1000=4000... 
        • maka total biaya pakan perhari adalah 67.000+18.000+16.000+4000= Rp105.000/hari x 1 minggu = 735.000

         harga telur saat ini dihitung per tray Rp23.000 ( 90 butir) = Rp255/butir.
        jika pada minggu 1 indukan bertelur 10% maka harga telur nya Rp 255x 595 butir= 152.000,- - biaya pakan per minggu 735.000=-582000,-
        minggu ke 2 diasumsikan telur 30% maka haga telurnya= Rp 455.175 - 735000= -279.800,-
        -- minggu ke 3  asumsi telur 80% = Rp 1.213.800,- 735.000= 478.800,-
        ==minggu ke 4 = keuntungan 478.800,- dst
         ++++ jadi total pengembalian modal bisa dihitung sendiri, saya prediksi kembali modal sekitar 6 bulan, setelah itu keuntungan saja,,,,,++++++++


        pondok puyuh, jln. langko-janapria, janapria , Lombok tengah.... 081907238878

Senin, 30 Juni 2014

SEJARAH SINGKAT PUYUH (BUBUT) DI INDONESIA

SEJARAH PENYEBARAN PUYUH

1. SEJARAH PUYUH
Puyuh adalah nama untuk beberapa genera dalam familia Phasianidae. Burung ini berukuran menengah. Burung puyuh dari Dunia Baru (famili Odontophoridae) dan puyuh kancing (famili Turnicidae) tidak berkerabat dekat namun nama mereka memiliki perilaku dan karakteristik fisik yang mirip.
Burung puyuh adalah unggas daratan yang kecil namun gemuk. Mereka pemakan biji-bijian namun juga pemakan serangga dan mangsa berukuran kecil lainnya. Mereka bersarang di permukaan tanah, dan berkemampuan untuk lari dan terbang dengan kecepatan tinggi namun dengan jarak tempuh yang pendek. Beberapa spesies seperti puyuh jepang adalah migratori dan mampu terbang untuk jarak yang jauh. Beberapa jenis puyuh diternakkan dalam jumlah besar. Puyuh jepang diternakkan terutama karena telurnya.

Beberapa ratus tahun yang lalu di Jepang telah diadakan penjinakan terhadap burung puyuh, mula-mula ditujukan untuk hewan kesenangan dan untuk burung bernyanyi. Selain di Jepang, penjinakan burung puyuh liar itu dilakukan juga di Korea, Cina dan Taiwan. Beberapa hasil penjinakan itu dibawa ke Jepang. Pengembangbiakan dan seleksi yang dilakukan secara seksama sehingga menjadi suatu strain tersendiri yang sekarang dikenal dengan nama Coturnix coturnix japanica. Bibit ini sudah tersebar dibeberapa negara antara lain: di Amerika, Eropa, beberapa negara Asia, juga di Indonesia. Burung puyuh ini menjadi makin populer dan digemari karena telur dan dagingnya sebagai bahan makanan yang bergizi dan lezat, juga baik sebagai hewan percobaan untuk berbagai penelitian dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan.
Ciri karakteristik dari burung puyuh Coturnix coturnix japanica dapat dijelaskan sebagai berikut:
  • Bentuk badannya lebih besar dari burung puyuh lainnya, panjang badannya sekitar 19 cm, badannya bulat, ekornya pendek, paruhnya lebih pendek dan kuat, jari kakinya empat buah, tiga jari kakinya kemuka dan satu jari kakinya ke arah belakang, warna kaki kekuning-kuningan.
  • Pertumbuhan bulunya menjadi lengkap setelah berumur dua sampai tiga minggu. Kedua jenis kelaminnya dapat dibedakan berdasarkan warna bulunya, suaranya dan beratnya.
  • Burung puyuh jantan dewasa: bulu pada kepala dan di atas mata pada bagian alis mata ke belakang ada bulu berwarna putih berbentuk garis melengkung yang tebal; bulu punggung berwarna campuran coklat gelap, abu-abu, dengan garis-garis putih; sayapnya berwarna campuran coklat gelap, abu-abu, dengan garis-garis putih; sayapnya berwarna campuran pula dengan bercak-bercak atau belang kehitam-hitaman, sayapnya kira-kira 89 mm panjangnya; bulun daerah kerongkongan bervariasi dari coklat muda (cinnamon) sampai coklat kehitam-hitaman; bulu dadanya berwarna merah sawo matang tanpa adanya warna belang atau bercak kehitam-hitaman.
  • Burung puyuh betina dewasa: warna bulunya sama dengan bulu yang jantan, kecuali bulu dadanya berwarna merah sawo matang dengan garis-garis atau belang kehitam-hitaman.
  • Suara yang jantan dewasa keras, sering sepanjang malam bersuara terus menerus, sedangkan yang betina tidak bersuara keras.
  • Burung puyuh mencapai dewasa kelamin pada umur sekitar 42 hari atau enam minggu. Berat badan burung puyuh betina dewasa adalah kira-kira 143 gram per ekor, sedangkan yang jantan kira-kira 117 gram per ekor.
  • Burung puyuh betina dapat berproduksi sampai 200 – 300 butir setahun. Telur sekitar 10 gram beratnya per butir atau 7 – 8 persen dari berat badannya. Kerabang telur berwarna tersifat oleh adanya variasi dari coklat tua, biru, putih dengan berisi bercak-bercak hitam, biru atau coklat tersebar pada permukaan kerabangnya. Pigmen kerabang telur berupa ooporphyrin dan biliverdin.
  • Lamanya periode pengeraman telurnya antara 16 – 17 hari.
Burung puyuh liar yang khusus ada di Indonesia, biasanya disebut "gemak", termasuk dalam genus TURNIX yang jauh berbeda dengan coturnix, perbedaan yang jelas adalah pada jari-jari kakinya.
Coturnix mempunyai 4 jari, tiga menghadap ke muka dan satu ke belakang, sedangkan Turnix hanya mempunyai 3 jari yang menghadap ke muka. Speciesnya antara lain sperti berikut:
  1. Turnix sylvatica baktelsorum. Terdapat di Cirebon, Jawa.
  2. Turnix sylvatica beccarii salvadori. Terdapat di Kendari, Sulawesi.
  3. Turnix sylvatica maculosa. Terdapat di pulau Timor.
  4. Turnix sylvatica everetti. Terdapat di pulau Sumba.
  5. Turnix sylvatica atrogularis. Terdapat di Sumatra Utara.
  6. Turnix sylvatica suscitator. Terdapat di Sumatra Tenggara, Jawa, Beliton, Bali.
  7. Turnix sylvatica rufilata wallace. Terdapat di Sulawesi.
  8. Turnix sylvatica powelli guillemard. Terdapat di Lombok, Sumbawa, Flores, Bali.
    Sumber : http://chickaholic.wordpress.com

    2. Pembudidayaannya

      dalam pembudidayaan burung puyuh mesti melakukan beberapa langkah dan tindakan seperti tata letak kandang, kandang, pakan , distribusi telur  dan pengembangan selanjutnya.
    1.  letak lokasi
      1. Lokasi jauh dari keramaian dan pemukiman penduduk
      2. Lokasi mempunyai strategi transportasi, terutama jalur sapronak dan jalur-jalur pemasaran
      3. Lokasi terpilih bebas dari wabah penyakit
      4. Bukan merupakan daerah sering banjir
      5. Merupakan daerah yang selalu mendapatkan sirkulasi udara yang ba
      6. Penyiapan Sarana dan Peralatan
        1. Perkandangan
          Dalam sistem perkandangan yang perlu diperhatikan adalah temperatur kandang yang ideal atau normal berkisar 20-25 derajat C; kelembaban kandang berkisar 30-80%; penerangan kandang pada siang hari cukup 25-40 watt, sedangkan malam hari 40-60 watt (hal ini berlaku untuk cuaca mendung/musim hujan). Tata letak kandang sebaiknya diatur agar sinar matahari pagi dapat masuk kedalam kandang. Model kandang puyuh ada 2 (dua) macam yang biasa diterapkan yaitu sistem litter (lantai sekam) dan sistem sangkar (batere). Ukuran kandang untuk 1 m 2 dapat diisi 90-100 ekor anak puyuh, selanjuntnya menjadi 60 ekor untuk umur 10 hari sampai lepas masa anakan. Terakhir menjadi 40 ekor/m 2 sampai masa bertelur. Adapun kandang yang biasa digunakan dalam budidaya burung puyuh adalah:
          1. Kandang untuk induk pembibitan
            Kandang ini berpegaruh langsung terhadap produktifitas dan kemampuan mneghasilkan telur yang berkualitas. Besar atau ukuran kandang yang akan digunakan harus sesuai dengan jumlah puyuh yang akan dipelihara. Idealnya satu ekor puyuh dewasamembutuhkan luas kandang 200 m2.
          2. Kandang untuk induk petelur
            Kandang ini berfungsi sebagai kandang untuk induk pembibit. Kandang ini mempunyai bentuk, ukuran, dan keperluan peralatan yang sama. Kepadatan kandang lebih besar tetapi bisa juga sama.
          3. Kandang untuk anak puyuh/umur stater(kandang indukan)
            Kandang ini merupakan kandang bagi anak puyuh pada umur starter, yaitu mulai umur satu hari sampai dengan dua sampai tiga minggu. Kandang ini berfungsi untuk menjaga agar anak puyuh yang masih memerlukan pemanasan itu tetap terlindung dan mendapat panas yang sesuai dengan kebutuhan. Kandang ini perlu dilengkapi alat pemanas. Biasanya ukuran yang sering digunakan adalah lebar 100 cm, panjang 100 cm, tinggi 40 cm, dan tinggi kaki 50 cm. (cukup memuat 90-100 ekor anak puyuh).
          4. Kandang untuk puyuh umur grower (3-6 minggu) dan layer (lebih dari 6 minggu)
            Bentuk, ukuran maupun peralatannya sama dengan kandang untuk induk petelur. Alas kandang biasanya berupa kawat ram.
        2. Peralatan
          Perlengkapan kandang berupa tempat makan, tempat minum, tempat bertelur dan tempat obat-obatan.
      7. Penyiapan Bibit
        Yang perlu diperhatikan oleh peternak sebelum memulai usahanya, adalah memahami 3 (tiga) unsur produksi usaha perternakan yaitu bibit/pembibitan, pakan (ransum) dan pengelolaan usaha peternakan. Pemilihan bibit burung puyuh disesuaikan dengan tujuan pemeliharaan, ada 3 (tiga) macam tujuan pemeliharaan burung puyuh, yaitu:
        1. a. Untuk produksi telur konsumsi, dipilih bibit puyuh jenis ketam betina yang sehat atau bebas dari kerier penyakit.
        2. b. Untuk produksi daging puyuh, dipilih bibit puyuh jantan dan puyuh petelur afkiran.
        3. c. Untuk pembibitan atau produksi telur tetas, dipilih bibit puyuh betina yang baik produksi telurnya dan puyuh jantan yang sehat yang siap membuahi puyuh betina agar dapat menjamin telur tetas yang baik.
      8. 6.3. Pemeliharaan
        1. 1) Sanitasi dan Tindakan Preventif
          Untuk menjaga timbulnya penyakit pada pemeliharaan puyuh kebersihan lingkungan kandang dan vaksinasi terhadap puyuh perlu dilakukan sedini
          mungkin.
        2. 2) Pengontrolan Penyakit
          Pengontrolan penyakit dilakukan setiap saat dan apabila ada tanda-tanda yang kurang sehat terhadap puyuh harus segera dilakukan pengobatan sesuai dengan petunjuk dokter hewan atau dinas peternakan setempat atau petunjuk dari Poultry Shoup.
        3. 3) Pemberian Pakan
          Ransum (pakan) yang dapat diberikan untuk puyuh terdiri dari beberapa bentuk, yaitu: bentuk pallet, remah-remah dan tepung. Karena puyuh yang suka usil memtuk temannya akan mempunyai kesibukan dengan mematuk-matuk pakannya. Pemberian ransum puyuh anakan diberikan 2 (dua) kali sehari pagi dan siang. Sedangkan puyuh remaja/dewasa diberikan ransum hanya satu kali sehari yaitu di pagi hari. Untuk pemberian minum pada anak puyuh pada bibitan terus-menerus.
        4. 4) Pemberian Vaksinasi dan Obat
          Pada umur 4-7 hari puyuh di vaksinasi dengan dosis separo dari dosis untuk ayam. Vaksin dapat diberikan melalui tetes mata (intra okuler) atau air minum (peroral). Pemberian obat segera dilakukan apabila puyuh terlihat gejala-gejala sakit dengan meminta bantuan petunjuk dari PPL setempat ataupun dari toko peternakan (Poultry Shoup), yang ada di dekat Anda beternak puyuh.
     HAMA DAN PENYAKIT
    1. Radang usus (Quail enteritis)
      Penyebab: bakteri anerobik yang membentuk spora dan menyerang usus, sehingga timbul pearadangan pada usus.
      Gejala: puyuh tampak lesu, mata tertutup, bulu kelihatan kusam, kotoran berair dan mengandung asam urat.
      Pengendalian: memperbaiki tata laksana pemeliharaan, serta memisashkan burung puyuh yang sehat dari yang telah terinfeksi.
    2. Tetelo (NCD/New Casstle Diseae)
      Gejala: puyuh sulit bernafas, batuk-batuk, bersin, timbul bunyi ngorok, lesu, mata ngantuk, sayap terkulasi, kadang berdarah, tinja encer kehijauan yang
      spesifik adanya gejala “tortikolis”yaitu kepala memutar-mutar tidak menentu dan lumpuh.
      Pengendalian:
      1. menjaga kebersihan lingkungan dan peralatan yang tercemar virus, binatang vektor penyakit tetelo, ayam yang mati segera dibakar/dibuang;
      2. pisahkan ayam yang sakit, mencegah tamu masuk areal peternakan tanpa baju yang mensucihamakan/ steril serta melakukan vaksinasi NCD. Sampai sekarang belum ada obatnya.
    3. Berak putih (Pullorum)
      Penyebab: Kuman Salmonella pullorum dan merupakan penyakit menular.
      Gejala: kotoran berwarna putih, nafsu makan hilang, sesak nafas, bulu-bulu mengerut dan sayap lemah menggantung.
      Pengendalian: sama dengan pengendalian penyakit tetelo.
    4. Berak darah (Coccidiosis)
      Gejala: tinja berdarah dan mencret, nafsu makan kurang, sayap terkulasi, bulu kusam menggigil kedinginan.
      Pengendalian:
      1. menjaga kebersihan lingkungaan, menjaga litter tetap kering;
      2. dengan Tetra Chloine Capsule diberikan melalui mulut; Noxal, Trisula Zuco tablet dilarutkan dalam air minum atau sulfaqui moxaline, amprolium, cxaldayocox
    5. Cacar Unggas (Fowl Pox)
      Penyebab: Poxvirus, menyerang bangsa unggas dari semua umur dan jenis kelamin.
      Gejala: imbulnya keropeng-keropeng pada kulit yang tidak berbulu, seperti pial, kaki, mulut dan farink yang apabila dilepaskan akan mengeluarkan darah.
      Pengendalian: vaksin dipteria dan mengisolasi kandang atau puyuh yang terinfksi.
    6. Quail Bronchitis
      Penyebab: Quail bronchitis virus (adenovirus) yang bersifat sangat menular.
      Gejala: puyuh kelihatan lesu, bulu kusam, gemetar, sulit bernafas, batuk dan bersi, mata dan hidung kadang-kadang mengeluarkan lendir serta kadangkala kepala dan leher agak terpuntir.
      Pengendalian: pemberian pakan yang bergizi dengan sanitasi yang memadai.
    7. Aspergillosis
      Penyebab: cendawan Aspergillus fumigatus.
      Gejala: Puyuh mengalami gangguan pernafasan, mata terbentuk lapisan putih menyerupai keju, mengantuk, nafsu makan berkurang.
      Pengendalian: memperbaiki sanitasi kandang dan lingkungan sekitarnya.
    8. Cacingan
      Penyebab: sanitasi yang buruk.
      Gejala: puyuh tampak kurus, lesu dan lemah.
      Pengendalian: menjaga kebersihan kandang dan pemberian pakan yang terjaga kebersihannya.
     PANEN
    1. Hasil Utama
      Pada usaha pemeliharaan puyuh petelur, yang menjadi hasil utamanya adalah produksi telurnya yang dipanen setiap hari selama masa produksi berlangsung.
    2. Hasil Tambahan
      Sedangkan yang merupakan hasil tambahan antara lain berupa daging afkiran, tinja dan bulu puyuh