SEJARAH PENYEBARAN PUYUH
1. SEJARAH PUYUH
Puyuh adalah nama untuk beberapa genera dalam familia Phasianidae. Burung ini berukuran menengah. Burung puyuh dari Dunia Baru (famili Odontophoridae) dan puyuh kancing (famili Turnicidae) tidak berkerabat dekat namun nama mereka memiliki perilaku dan karakteristik fisik yang mirip.
Burung puyuh adalah unggas daratan yang kecil namun gemuk. Mereka pemakan
biji-bijian namun juga pemakan
serangga
dan mangsa berukuran kecil lainnya. Mereka bersarang di permukaan
tanah, dan berkemampuan untuk lari dan terbang dengan kecepatan tinggi
namun dengan jarak tempuh yang pendek. Beberapa spesies seperti
puyuh jepang adalah
migratori
dan mampu terbang untuk jarak yang jauh. Beberapa jenis puyuh
diternakkan dalam jumlah besar. Puyuh jepang diternakkan terutama karena
telurnya.
Beberapa ratus tahun yang lalu di Jepang telah
diadakan penjinakan terhadap burung puyuh, mula-mula ditujukan untuk
hewan kesenangan dan untuk burung bernyanyi. Selain di Jepang,
penjinakan burung puyuh liar itu dilakukan juga di Korea, Cina dan
Taiwan. Beberapa hasil penjinakan itu dibawa ke Jepang. Pengembangbiakan
dan seleksi yang dilakukan secara seksama sehingga menjadi suatu strain
tersendiri yang sekarang dikenal dengan nama Coturnix coturnix japanica.
Bibit ini sudah tersebar dibeberapa negara antara lain: di Amerika,
Eropa, beberapa negara Asia, juga di Indonesia. Burung puyuh ini menjadi
makin populer dan digemari karena telur dan dagingnya sebagai bahan
makanan yang bergizi dan lezat, juga baik sebagai hewan percobaan untuk
berbagai penelitian dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan.
Ciri karakteristik dari burung puyuh Coturnix coturnix japanica dapat dijelaskan sebagai berikut:
-
Bentuk badannya lebih besar dari burung puyuh
lainnya, panjang badannya sekitar 19 cm, badannya bulat, ekornya pendek,
paruhnya lebih pendek dan kuat, jari kakinya empat buah, tiga jari
kakinya kemuka dan satu jari kakinya ke arah belakang, warna kaki
kekuning-kuningan.
-
Pertumbuhan bulunya menjadi lengkap setelah berumur
dua sampai tiga minggu. Kedua jenis kelaminnya dapat dibedakan
berdasarkan warna bulunya, suaranya dan beratnya.
-
Burung puyuh jantan dewasa: bulu pada kepala dan di
atas mata pada bagian alis mata ke belakang ada bulu berwarna putih
berbentuk garis melengkung yang tebal; bulu punggung berwarna campuran
coklat gelap, abu-abu, dengan garis-garis putih; sayapnya berwarna
campuran coklat gelap, abu-abu, dengan garis-garis putih; sayapnya
berwarna campuran pula dengan bercak-bercak atau belang kehitam-hitaman,
sayapnya kira-kira 89 mm panjangnya; bulun daerah kerongkongan
bervariasi dari coklat muda (cinnamon) sampai coklat kehitam-hitaman;
bulu dadanya berwarna merah sawo matang tanpa adanya warna belang atau
bercak kehitam-hitaman.
-
Burung puyuh betina dewasa: warna bulunya sama
dengan bulu yang jantan, kecuali bulu dadanya berwarna merah sawo matang
dengan garis-garis atau belang kehitam-hitaman.
-
Suara yang jantan dewasa keras, sering sepanjang malam bersuara terus menerus, sedangkan yang betina tidak bersuara keras.
-
Burung puyuh mencapai dewasa kelamin pada umur
sekitar 42 hari atau enam minggu. Berat badan burung puyuh betina dewasa
adalah kira-kira 143 gram per ekor, sedangkan yang jantan kira-kira 117
gram per ekor.
-
Burung puyuh betina dapat berproduksi sampai 200 –
300 butir setahun. Telur sekitar 10 gram beratnya per butir atau 7 – 8
persen dari berat badannya. Kerabang telur berwarna tersifat oleh adanya
variasi dari coklat tua, biru, putih dengan berisi bercak-bercak hitam,
biru atau coklat tersebar pada permukaan kerabangnya. Pigmen kerabang
telur berupa ooporphyrin dan biliverdin.
-
Lamanya periode pengeraman telurnya antara 16 – 17 hari.
Burung puyuh liar yang khusus ada di Indonesia, biasanya disebut "gemak", termasuk dalam genus TURNIX yang jauh berbeda dengan coturnix, perbedaan yang jelas adalah pada jari-jari kakinya.
Coturnix mempunyai 4 jari, tiga menghadap ke muka dan satu ke belakang, sedangkan Turnix hanya mempunyai 3 jari yang menghadap ke muka. Speciesnya antara lain sperti berikut:
-
Turnix sylvatica baktelsorum. Terdapat di Cirebon, Jawa.
-
Turnix sylvatica beccarii salvadori. Terdapat di Kendari, Sulawesi.
-
Turnix sylvatica maculosa. Terdapat di pulau Timor.
-
Turnix sylvatica everetti. Terdapat di pulau Sumba.
-
Turnix sylvatica atrogularis. Terdapat di Sumatra Utara.
-
Turnix sylvatica suscitator. Terdapat di Sumatra Tenggara, Jawa, Beliton, Bali.
-
Turnix sylvatica rufilata wallace. Terdapat di Sulawesi.
-
Turnix sylvatica powelli guillemard. Terdapat di Lombok, Sumbawa, Flores, Bali.
Sumber : http://chickaholic.wordpress.com
2. Pembudidayaannya
dalam pembudidayaan burung puyuh mesti melakukan beberapa langkah dan tindakan seperti tata letak kandang, kandang, pakan , distribusi telur dan pengembangan selanjutnya.
- letak lokasi
- Lokasi jauh dari keramaian dan pemukiman penduduk
- Lokasi mempunyai strategi transportasi, terutama jalur sapronak dan jalur-jalur pemasaran
- Lokasi terpilih bebas dari wabah penyakit
- Bukan merupakan daerah sering banjir
- Merupakan daerah yang selalu mendapatkan sirkulasi udara yang ba
- Penyiapan Sarana dan Peralatan
- Perkandangan
Dalam sistem perkandangan yang perlu diperhatikan adalah temperatur
kandang yang ideal atau normal berkisar 20-25 derajat C; kelembaban
kandang berkisar 30-80%; penerangan kandang pada siang hari cukup 25-40
watt, sedangkan malam hari 40-60 watt (hal ini berlaku untuk cuaca
mendung/musim hujan). Tata letak kandang sebaiknya diatur agar sinar
matahari pagi dapat masuk kedalam kandang. Model kandang puyuh ada 2
(dua) macam yang biasa diterapkan yaitu sistem litter (lantai sekam) dan
sistem sangkar (batere). Ukuran kandang untuk 1 m 2 dapat diisi 90-100
ekor anak puyuh, selanjuntnya menjadi 60 ekor untuk umur 10 hari sampai
lepas masa anakan. Terakhir menjadi 40 ekor/m 2 sampai masa bertelur.
Adapun kandang yang biasa digunakan dalam budidaya burung puyuh adalah:
- Kandang untuk induk pembibitan
Kandang ini berpegaruh langsung terhadap produktifitas dan kemampuan
mneghasilkan telur yang berkualitas. Besar atau ukuran kandang yang akan
digunakan harus sesuai dengan jumlah puyuh yang akan dipelihara.
Idealnya satu ekor puyuh dewasamembutuhkan luas kandang 200 m2.
- Kandang untuk induk petelur
Kandang ini berfungsi sebagai kandang untuk induk pembibit. Kandang ini
mempunyai bentuk, ukuran, dan keperluan peralatan yang sama. Kepadatan
kandang lebih besar tetapi bisa juga sama.
- Kandang untuk anak puyuh/umur stater(kandang indukan)
Kandang ini merupakan kandang bagi anak puyuh pada umur starter, yaitu
mulai umur satu hari sampai dengan dua sampai tiga minggu. Kandang ini
berfungsi untuk menjaga agar anak puyuh yang masih memerlukan pemanasan
itu tetap terlindung dan mendapat panas yang sesuai dengan kebutuhan.
Kandang ini perlu dilengkapi alat pemanas. Biasanya ukuran yang sering
digunakan adalah lebar 100 cm, panjang 100 cm, tinggi 40 cm, dan tinggi
kaki 50 cm. (cukup memuat 90-100 ekor anak puyuh).
- Kandang untuk puyuh umur grower (3-6 minggu) dan layer (lebih dari 6 minggu)
Bentuk, ukuran maupun peralatannya sama dengan kandang untuk induk petelur. Alas kandang biasanya berupa kawat ram.
- Peralatan
Perlengkapan kandang berupa tempat makan, tempat minum, tempat bertelur dan tempat obat-obatan.
- Penyiapan Bibit
Yang perlu diperhatikan oleh peternak sebelum memulai usahanya, adalah
memahami 3 (tiga) unsur produksi usaha perternakan yaitu
bibit/pembibitan, pakan
(ransum) dan pengelolaan usaha peternakan. Pemilihan bibit burung puyuh
disesuaikan dengan tujuan pemeliharaan, ada 3 (tiga) macam tujuan
pemeliharaan burung puyuh, yaitu:
- a. Untuk produksi telur konsumsi, dipilih bibit puyuh jenis ketam betina yang sehat atau bebas dari kerier penyakit.
- b. Untuk produksi daging puyuh, dipilih bibit puyuh jantan dan puyuh petelur afkiran.
- c. Untuk pembibitan atau produksi telur tetas, dipilih bibit puyuh
betina yang baik produksi telurnya dan puyuh jantan yang sehat yang siap
membuahi puyuh betina agar dapat menjamin telur tetas yang baik.
- 6.3. Pemeliharaan
- 1) Sanitasi dan Tindakan Preventif
Untuk menjaga timbulnya penyakit pada pemeliharaan puyuh kebersihan
lingkungan kandang dan vaksinasi terhadap puyuh perlu dilakukan sedini
mungkin.
- 2) Pengontrolan Penyakit
Pengontrolan penyakit dilakukan setiap saat dan apabila ada tanda-tanda
yang kurang sehat terhadap puyuh harus segera dilakukan pengobatan
sesuai dengan petunjuk dokter hewan atau dinas peternakan setempat atau
petunjuk dari Poultry Shoup.
- 3) Pemberian Pakan
Ransum (pakan) yang dapat diberikan untuk puyuh terdiri dari beberapa
bentuk, yaitu: bentuk pallet, remah-remah dan tepung. Karena puyuh yang
suka usil memtuk temannya akan mempunyai kesibukan dengan mematuk-matuk
pakannya. Pemberian ransum puyuh anakan diberikan 2 (dua) kali sehari
pagi dan siang. Sedangkan puyuh remaja/dewasa diberikan ransum hanya
satu kali sehari yaitu di pagi hari. Untuk pemberian minum pada anak
puyuh pada bibitan terus-menerus.
- 4) Pemberian Vaksinasi dan Obat
Pada umur 4-7 hari puyuh di vaksinasi dengan dosis separo dari dosis
untuk ayam. Vaksin dapat diberikan melalui tetes mata (intra okuler)
atau air minum (peroral). Pemberian obat segera dilakukan apabila puyuh
terlihat gejala-gejala sakit dengan meminta bantuan petunjuk dari PPL
setempat ataupun dari toko peternakan (Poultry Shoup), yang ada di dekat
Anda beternak puyuh.
HAMA DAN PENYAKIT
- Radang usus (Quail enteritis)
Penyebab: bakteri anerobik yang membentuk spora dan menyerang usus, sehingga timbul pearadangan pada usus.
Gejala: puyuh tampak lesu, mata tertutup, bulu kelihatan kusam, kotoran berair dan mengandung asam urat.
Pengendalian: memperbaiki tata laksana pemeliharaan, serta memisashkan burung puyuh yang sehat dari yang telah terinfeksi.
- Tetelo (NCD/New Casstle Diseae)
Gejala: puyuh sulit bernafas, batuk-batuk, bersin, timbul bunyi ngorok, lesu, mata ngantuk, sayap terkulasi, kadang berdarah, tinja encer kehijauan yang
spesifik adanya gejala “tortikolis”yaitu kepala memutar-mutar tidak menentu dan lumpuh.
Pengendalian:
- menjaga kebersihan lingkungan dan peralatan yang tercemar virus,
binatang vektor penyakit tetelo, ayam yang mati segera dibakar/dibuang;
- pisahkan ayam yang sakit, mencegah tamu masuk areal peternakan tanpa
baju yang mensucihamakan/ steril serta melakukan vaksinasi NCD. Sampai
sekarang belum ada obatnya.
- Berak putih (Pullorum)
Penyebab: Kuman Salmonella pullorum dan merupakan penyakit menular.
Gejala: kotoran berwarna putih, nafsu makan hilang, sesak nafas, bulu-bulu mengerut dan sayap lemah menggantung.
Pengendalian: sama dengan pengendalian penyakit tetelo.
- Berak darah (Coccidiosis)
Gejala: tinja berdarah dan mencret, nafsu makan kurang, sayap terkulasi, bulu kusam menggigil kedinginan.
Pengendalian:
- menjaga kebersihan lingkungaan, menjaga litter tetap kering;
- dengan Tetra Chloine Capsule diberikan melalui mulut; Noxal, Trisula
Zuco tablet dilarutkan dalam air minum atau sulfaqui moxaline,
amprolium, cxaldayocox
- Cacar Unggas (Fowl Pox)
Penyebab: Poxvirus, menyerang bangsa unggas dari semua umur dan jenis kelamin.
Gejala: imbulnya keropeng-keropeng pada kulit yang tidak berbulu,
seperti pial, kaki, mulut dan farink yang apabila dilepaskan akan
mengeluarkan darah.
Pengendalian: vaksin dipteria dan mengisolasi kandang atau puyuh yang terinfksi.
- Quail Bronchitis
Penyebab: Quail bronchitis virus (adenovirus) yang bersifat sangat menular.
Gejala: puyuh kelihatan lesu, bulu kusam, gemetar, sulit bernafas, batuk
dan bersi, mata dan hidung kadang-kadang mengeluarkan lendir serta
kadangkala kepala dan leher agak terpuntir.
Pengendalian: pemberian pakan yang bergizi dengan sanitasi yang memadai.
- Aspergillosis
Penyebab: cendawan Aspergillus fumigatus.
Gejala: Puyuh mengalami gangguan pernafasan, mata terbentuk lapisan putih menyerupai keju, mengantuk, nafsu makan berkurang.
Pengendalian: memperbaiki sanitasi kandang dan lingkungan sekitarnya.
- Cacingan
Penyebab: sanitasi yang buruk.
Gejala: puyuh tampak kurus, lesu dan lemah.
Pengendalian: menjaga kebersihan kandang dan pemberian pakan yang terjaga kebersihannya.
PANEN
- Hasil Utama
Pada usaha pemeliharaan puyuh petelur, yang menjadi hasil utamanya
adalah produksi telurnya yang dipanen setiap hari selama masa produksi
berlangsung.
- Hasil Tambahan
Sedangkan yang merupakan hasil tambahan antara lain berupa daging afkiran, tinja dan bulu puyuh